Homoseksual pada Hewan

5 09 2009

SEJAUH ini sebagian besar dari kita hanya memahami bahwa gejala
homoseksualitas–kecenderungan seksual terhadap sesama jenishanya terjadi pada
manusia. Padahal, gejala homoseksualitas juga terjadi pada dunia binatang.
Bahkan, sangat mungkin gejala pada hewan jauh lebih dulu daripada manusia.
Sedikit dan masih terbatasnya pengetahuan kita terhadap sifat, ciri, dan
perilaku binatang, menjadi faktor yang menyebabkan mengapa kita kurang bisa
melihat” fenomena yang dianggap menyimpang tersebut.

Berdasarkan data, gejala homoseksualitas telah didokumentasikan pada hampir
500 spesies binatang. Menurut para ahli, fakta ini menjadi indikasi bahwa
pilihan seksualitas pada dasarnya adalah sebuah kodrat yang harus diterima dan
dijalani. Yang lebih menarik, kecenderungan homoseksualitas tak hanya terjadi
pada hewan-hewan menyusui (mamalia) atau yang memiliki hubungan kekerabatan
(menurut cara pandang Teori Evolusi Darwin) dekat dengan manusia, tapi juga
terjadi pada hewan vertebrata yang kekerabatannya jauh dengan manusia. Berikut
ini ada sepuluh binatang yang tercatat berperilaku homo menurut versi
LiveScience.com.

Simpanse Bonobo
Simpanses dianggap memiliki hubungan paling dekat dengan kehidupan manusia.
Simpanse Bonobo termasuk hewan yang tak punya malu, mereka secara terbuka dan
tanpa malu-malu melakukan kesenangan seksual. Hampir semua simpanse–kera tak
berekor–yang dikenal sebagai pecinta damai ini adalah biseksual dan sering
menyelesaikan konflik dengan cara mengedepankan bercinta, bukan perang.
Mereka tergolong hewan yang sering bersetubuh, menjerit (melenguh) keras selama
melakukan persetubuhan, dan sering pula terlibat dalam aktivitas
homoseksualitas. Sekitar dua pertiga aktivitas homoseksualitas mereka dilakukan
oleh simpanse betina. Jadi, sebagian besar simpanse adalah lesbian.

Kera muka merah
Kera muka merah (macaques) Jepang betina membentuk ikatan kuat satu sama lain
dan secara monogami. Maksudnya, mereka hanya memiliki satu pasangan seksual
pada saat bersamaan. Meski demikian, mereka memiliki beberapa hubungan ini
selama masa pembiakan mereka. Si betina terlibat dalam aktivitas seksual
seperti dalam bentuk rangsangan genital dan mengeluarkan suara kesukaan mereka
yang khas dalam bentuk bunyi yang merdu. Demikian juga dengan sang jantan,
terlibat dalam permainan homoseksual, namun mereka kemudian cenderung
meninggalkan pasangannya segera setelah melakukan apa yang dalam dunia manusia
sering disebut dengan a one night stand

Bison Amerika
Di komunitas bison Amerka, pasangan homoseksual jantan-jantan cenderung lebih
umum terjadi daripada pasangan heteroseksual jantan-betina. Hal ini terutama
terjadi karena bison betina kimpoi dengan bison jantan hanya sekali dalam
setahun. Selama musim kimpoi, bison jantan terlibat dalam aktivitas seksual
sesama jenis yang berlangsung beberapa kali dalam sehari. Lebih dari 55 persen
pasangan bison jantan muda adalah dengan jenis kelamin yang sama.

Lumba-lumba Hidung Botol
Pada lumba-lumba hidung botol, aktivitas homoseksual terjadi dengan frekuensi
yang sama dengan permainan heteroseksual. Lumba-lumba hidung botol jantan
biasanya bersifat biseksual, namun mereka melewati beberapa periode dengan
menjadi homoseksual yang eksklusif. Aktivitas homoseksual mamalia (binatang
menyusui) di laut ini termasuk oral seks di mana seekor lumba-lumba mencoba
merangsang lumba-lumba lainnya menggunakan moncongnya. Lumba-lumba jantan juga
menggosok-gosokkan penisnya yang sudah ereksi kepada tubuh pasangan mereka.

Jerapah
Jerapah jantan tergolong sering melakukan percumbuan di antara mereka. Sering
kali seekor jerapah jantan memeluk jerapah jantan lainnya sebelum ia pergi ke
pasangannya (jerapah betina). Permainan “sayang-sayangan” ini bisa berlangsung
cukup lama, satu jam. Menurut sebuah studi, satu dari 20 jerapah jantan
ditemukan sedang berpelukan dengan jerapah jantan lainnya, meski hanya
berlangsung sebentar. Dalam banyak kasus, aktivitas homoseksualitas lebih umum
terjadi daripada heteroseksualitas.

Kijang Kob
Pada musim kimpoi, kijang betina rata-rata “bermesraan” dengan kijang betina
pasangannya selama satu jam. Di alam liar, pasangan homoseksual mencapai 9
persen dari semua aktivitas seksual binatang menyesui ini. Selama bercumbu,
kijang pengejar berjalan pelan di belakang suatu kawanan dan mengangkat kaki
depannya, menyentuh kijang betina lain di antara kaki-kakinya. Setelah itu,
hewan berkaki panjang ini pada akhirnya berjalan ke arah pasangannya.

Angsa hitam
Pasangan homoseksual pada angsa hitam mencapai lebih dari 20 persen dari
semua pasangan setiap tahunnya. Hampir seperempat dari seluruh keluarga angsa
hitam diinduki oleh pasangan homoseksual yang tinggal bersama selama beberapa
tahun. Pada saat itu, pasangan jantan menggunakan pelayanan angsa betina dengan
cara kimpoi. Sekali angsa betina meletakkan telur, sang ayah mengusir
pasangannya dan menetaskan telur-telur tersebut. Lain waktu, mereka menghalau
pasangan heteroseksual dari sarang mereka dan mengadopsi telur-telur yang ada
di sarang tersebut.

Walrus
Walrus jantan belum mencapai kedewasaan seksual mereka hingga berusia empat
tahun. Selama itu, mereka lebih banyak melibatkan diri secara eksklusif dalam
hubungan seks sejenis (homoseksual). Walrus jantan yang lebih tua cenderung
bersifat biseksual, kimpoi dengan walrus betina selama musim berbiak dan kimpoi
dengan walrus jantan di sisa waktu tahun tersebut. Walrus jantan saling
menggosok badan mereka, memeluk satu sama lain, dan bahkan tidur bersama dalam
air.

Paus kelabu
Interaksi homoseksualitas menjadi sesuatu yang umum terjadi di kelompok ikan
paus kelabu. Dalam suatu “pesta tergelincir dan meluncur” (slip and slide
orgies), lima ikan paus jantan berguling-buling, menceburkan diri ke laut,dan
menggosokkan perut mereka terhadap ikan-ikan lain sedemikian rupa sehingga alat
kelamin mereka saling bersentuhan.

Ayam jantan Guyana
Ayam jantan Guyana (Guianan-Cock-of-the-Rock) menarik perhatian dengan
bertengger seperti burung sambil memperlihatkan kebanggaannya dalam sikap
homoseksualitas. Sekitar 40 persen populasi jantan terlibat dalam bentuk
abktivitas homoseksualitas dan persentase kecil saja yang terlibat dalam
hubungan heteroseksualitas dengan betina.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: